Indonesia secara keseluruhan saat ini berada pada titik yang paling memalukan.
Kiranya ada tiga hal yang membuat universitas begitu mandul dalam melahirkan pemikiran-pemikiran baru, yaitu permasalahan epistemologi paradigma, pemisahan universitas negeri dan swasta serta mahalnya biaya sekolah serta buku-buku.
Epistemologi Paradigma
Ada semacam julukan yang diperuntukkan bagi institusi-institusi pendidikan yang tidak menyentuh masyarakatnya, yaitu universitas menara gading. Istilah menara gading dapat diartikan sebagai suatu komunitas masyarakat terdidik yang tidak menyentuh kendala-kendala dari dunia-nyata. Komunitas ‘makhluk-makhluk bercahaya’ itu pernah disindir oleh Albert Einstein – dalam suratnya kepada Ratu Belgia – sebagai “suatu dusun yang aneh dan sangat santun, yang dihuni oleh makhluk-makhluk setengah dewa yang berjalan dengan jangkungan.”
Tapi apa yang menyebabkan sebuah komunitas terdidik terlepas dari dunia-nyatanya? Apakah itu semata dorongan kemalasan dan gengsi untuk turun ke lapangan? Atau paradigma yang digunakan memang membatasinya untuk melihat dunia-nyata? Disini bisa dikatakan bahwa semuanya bekerja secara sinergis dalam membatasi ‘penglihatan’ terhadap dinamika masyarakat.
Dalam kehidupan universitas, paradigma adalah semacam kunci untuk melihat dunia. Dalam bahasa Thomas Kuhn, itu adalah kesepakatan warga akademis dalam memberi fondasi bagi aplikasi selanjutnya. Yang menjadi pertanyaan disini tentulah apa paradigma yang digunakan sehingga sehingga mereka terlihat terkurung dalam isolasi intelektualnya? Banyak pakar yang menganggap bahwa kemandegan itu bersumber dari paham-paham materialisme dengan seluruh ahli warisnya, terutama positivisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar